
Jangan menyerah pada perasaan yang memintamu untuk membenci. Berita yang beredar di masa-masa sekarang bagaikan dua mata pedang. Di satu sisi mereka membuka wawasan, membuat kita siaga, tapi di saat bersamaan bisa mempengaruhi emosi kita. Sebuah ujian bagi kemanusiaan seorang manusia. Ada yang menerima berita kemudian mencerna terlebih dahulu, berpikir, mendiskusikannya, baru merespon. Ada juga yang langsung bereaksi. Tapi demikian pun sungguh sangat bisa dipahami. Bagaimana tidak, hampir mustahil seseorang tidak bereaksi dengan gempuran berita-berita yang beredar saat ini. Masalahnya, reaksi instan ini adalah jebakan betmen, karena reaksi instan bisa mengantarkan emosi dan hati kita pada prasangka-prasangka yang mengantarkan perasaan benci. Sungguh benar saya bersaksi, sulit rasanya untuk eling dan tidak membenci. Sulit rasanya untuk terlebih dahulu menemu-kenali perasaan-perasaan yang lewat mampir sebagai reaksi dari sebuah pembacaan berita, seperti amarah, kesedihan, atau kegelisahan, misalnya. Sulit, tapi alangkah bijaknya, setelah mencoba menemu-kenali perasaan-perasaan tadi, coba perlahan sebelum membenci, alihkan energi tersebut untuk penasaran. Penasaran dengan penyebab, dan biarkan emosi itu lambat laun berubah bentuk menjadi keinginan yang sangat untuk bisa paham. Banyak tanya kenapa dan investigasi terus. Es troooooosss!
Lho ya aneh! Kenapa saya harus penasaran sama hal-hal yang membuat saya resah? Justru, karena semakin pelik sebuah masalah, semakin perlu pendekatan dua arah yang sifatnya dialog. Prasangka satu arah tidak akan membuat kita lebih dekat dengan solusi, alih-alih membuat kita gelap mata dan menghasilkan kesimpulan yang bisa melahirkan masalah lain. Gelap mata dan kebencian akan datang bersama dengan ego yang hanya akan menutup mata, telinga, dan nurani; mengebaskan hati, mati rasa. Yen tak pikir-pikir, yang kita perlukan saat ini adalah sungguh banyak orang yang punya rasa penasaran tinggi dan keinginan untuk paham sama tingginya. Lebih banyak dari yang merasa benci blass, wis raiso mikir, pokomen benci. Pokomen itu ‘pokoknya’, bukan typo dari pokemon.
Penasaran dan keinginan untuk paham rasanya lebih baik akan mengantarkan kita pada kemampuan untuk membangun dialektika yang sehat dan kebesaran hati untuk merendahkan ego.
“Lha tros aku ga boleh marah?” Boleh! Silakan marah. Marah pada ketidakadilan. Marah pada kekuasaan yang korup. Marah pada kebijakan dan keputusan yang merugikan kepentingan masyarakat banyak. Marah pada kekerasan dan perang. Marah pada penguasa yang terasa tidak berpihak pada rakyat lagi. Silakan dan rasakan marah itu tertahan berat dan panas dalam dadamu. Terima, tapi tahan dulu, jangan dimuntahkan serta-merta. Tidak mudah, saya paham, tapi tolong tahan, olah dulu, kelola dan cerna. Perlahan ubah pendekatan dan pola pikir kita terhadap panas tersebut dengan sikap penasaran.
Asah diksimu dengan bijak, baik hati dan tajam.
Diskusikan dengan orang-orang lain yang terbuka hatinya dan sama-sama ingin memahami duduk perkaranya demi mendapatkan jalan keluar yang lebih solutif dan lestari. Baru kemudian respon dengan tindakan yang nyata dan bergerak maju. Membenci bukan jalan menuju solusi. Pijakan benci tidak akan pernah melahirkan solusi yang baik, yang adil.
Jadi, kembali pada apa yang mau saya sampaikan, sungguh mudah rasanya menerima berita-berita yang beredar saat ini sebagai Undangan. Undangan untuk membenci. Tolak dan buang saja undangan macam itu. Mari kita mengundang diri sendiri pada perhelatan penasaran alih-alih keriuhan benci. Marah dipersilakan, tapi aksinya harus menjelma menjadi berpikir, cari tahu, memetakan dan menyimpulkan, respon, lalu pikir lagi*. Lakukan terus, jangan kendor, manfaatkan marahmu tadi sebagai energi pembangkit.
*meminjam dari salah satu slide Malé Luján Escalante saat beliau mendiskusikan perihal Transition Design di Bandung; Think, Interrogate, Enquire, Do, then Think Again.
Bandung,
21 Juni 2024.
Penulis:
Amanda Mita
Tulisan Mita lainnya bisa ditemukan pada tautan ini