Mendengar yang Tak Dikatakan Lewat Gemuruh Riuh Kota

Jam menunjukkan pukul 15 WIB, ketika untuk kesekian kali saya mendengar suara pedagang keliling dalam rentang waktu tiga puluh menit berlalu. Gerobak bakso dengan bunyi ting-ting-ting nyaring dari ketukan sendok pada mangkok, pedagang keripik singkong dengan suara melengking, pengamen ondel-ondel berpengeras suara yang terdengar sejak jarak 300 meter sebelumnya — bergantian berlalu lalang di depan rumah saya di sebuah gang di kota Bogor.

Pada kisaran waktu yang sama, pada catatan saya yang lain ketika berkelana di sebuah gang di Jakarta Pusat, saya mendengar suara anak laki-laki dan perempuan bersorak ketika bola sepak masuk gawang, suara kayuh sepeda roda empat, dan seorang kurir online memanggil penghuni rumah untuk mengantar pesanan kilat, sesekali tenggelam oleh gemuruh suara KRL melintas melalui jalur layang di atasnya.  Sementara dari sebuah gang di perkampungan perbatasan kota Bandung, pada pukul 15 saya mendengar sayup suara mengaji dari masjid penjuru kampung dan riuh anak bermain ditimpali seorang ibu berdendang dangdut melalui pengeras suara pribadi dari sebuah rumah.

Anak-anak bermain, tetangga dangdutan.
Gemuruh KRL dan riuh anak-anak bermain.

Suara khas bermacam pedagang keliling yang saya temui sepanjang hari di jalanan Bogor dan Jakarta, tidak teman saya temui ketika menetap di Jepang. Di Jepang, setidaknya di area tempat teman saya tinggal, yang terdengar setiap hari paling-paling hanya suara bel sekolah terdekat. “Kadang tukang rongsokan lewat dengan pengeras suara,” katanya, “Sesekali bisa terdengar peringatan publik tentang cuaca buruk juga, entah dari mana terdengarnya”. Kontras yang menurut saya menarik karena setidaknya hingga abad 19, gambar yang terdapat pada seni cukil kayu tradisional Jepang menunjukkan masih adanya pedagang keliling di kota-kota Jepang. 

Perbedaan, persamaan, ada dan tidak adanya suara tertentu pada tempat berbeda, dapat memberi petunjuk tentang bagaimana hidup berlangsung pada ruang tertentu.

Seorang kontributor majalah Nikkei Asia, Edward M. Gomez, menulis pada tahun 2021, “Saya pernah tinggal dan bekerja di beberapa kota di Jepang, dan yang saya perhatikan adalah saat ini terutama di Tokyo, jumlah penjual jalanan yang berdiri sendiri tidak sebanyak dulu, bahkan tidak terlihat dengan jelas. Berbeda dengan masa lalu di mana penjual jalanan lebih umum dijumpai. Namun, sekarang kita dapat menemukan sekitar 50.000 konbini (toko serba ada) dan mesin penjual otomatis yang tersebar di seluruh Jepang. Dua hal ini menggantikan penjual kaki lima yang dahulu dapat ditemukan di Tokyo, Osaka, dan kota-kota lainnya yang menjajakan permen, rempah dan tanaman obat-obatan, atau makanan segar dengan gerobak dorong.” Perbedaan yang dihasilkan dari perubahan sedikit demi sedikit berpuluh tahun seperti ini sering kali luput kita lihat, padahal hal ini menggambarkan perubahan perilaku dan budaya masyarakat setempat.

Sebuah gang di Bogor dengan berbagai pedagang keliling di siang hari, menggunakan gerobak maupun bakul untuk membawa dagangan.

Selain lewat suara yang terdengar, sebenarnya kita bisa mengamat menggunakan semua indera lain yang kita miliki: penglihatan, pengecap, perasa, dan penciuman. Meskipun pengamatan dengan indera pengecap, perasa, dan penciuman cenderung lebih sulit untuk didokumentasikan.

Jan Chipcase, peneliti dan pendiri Studio D’Radiodurans, menuliskan pada buku Hidden in Plain Sight, bahwa meskipun pengamatan visual (menggunakan penglihatan) amat sering kita lakukan dan mudah didokumentasikan, sering kali kita tetap luput menangkap hal-hal kecil: misalnya apa yang tertulis pada marka setempat (dan siapa yang menuliskan), menggunakan bahasa apa saja marka tersebut dituliskan, seperti apa bentuk pagar pintu dan jendela sepanjang jalan, hingga benda dan informasi apa saja yang ditampilkan di muka warung dan kedai.

Tulisan multibahasa di dinding kaca sebuah ATM di Ubud, kabupaten Gianyar, Bali. Penggunaan bahasa pada marka di sekitar (urban signs), menurut Jan, dapat merefleksikan tentang keterbukaan suatu komunitas terhadap orang asing, posisi kekuatan pengguna bahasa tertentu, hingga arus migrasi yang terjadi pada tempat tersebut.

Contoh amatan visual yang remeh misalnya saya temukan ketika berjalan kaki di Surabaya. Saya melihat sebuah tanda gang yang terlihat cukup baru, bertuliskan kata belanda ‘straat‘, meskipun seperti yang saya temukan kemudian melalui artikel di internet, nama Ondomohen sendiri bukan berasal dari bahasa belanda. Ondomohen, jelas artikel yang saya baca, bukan juga bahasa Indonesia. Ondomohen mungkin adalah satu-satunya jalan lama kota Surabaya yang namanya tidak diketahui asal katanya, sehingga kemudian dianggap sebagai kata asli Surabaya.

Saya berjalan menelusuri area Ondomohen secara singkat, tetapi tidak berhasil menemukan tanda gang lain dengan gaya dan perlakuan serupa dengan Ondomohen pada gang sekitarnya. Bentuk rupa dan pemilihan bahasa yang digunakan pada tanda jalan Ondomohen memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana suatu entitas – baik itu warga setempat ataupun pemerintah kota yang menetapkan penggunaannya, ingin dikenali dan dipahami oleh orang lain diluar entitas tersebut.

Tanda nama gang berbahasa belanda di Surabaya. Meskipun tidak terekspos dari jalan besar, dan rumah-rumah di gang tersebut sudah tidak lagi merupakan rumah bergaya lama, tanda nama gang Ondomohen tetap menggunakan kata belanda ‘straat‘ dan mencantumkan tahun 1935.

Pada kesempatan lain saya mendapati tulisan ‘Jam Belajar Masyarakat‘ terpasang di beberapa gang di Yogyakarta. Secara visual, tulisan tersebut tidak terlalu mencolok, tetapi sebagai seorang pelancong, saya merasa tulisan tersebut amat menarik. Apa itu Jam Belajar Masyarakat? Mengapa harus dituliskan pada gang-gang? Mengapa masyarakat Yogyakarta memiliki jam belajar khusus? Siapa yang menetapkan ketentuan waktu belajar masyarakat? Siapa yang kemudian menuliskannya di jalanan?

Bagi warga Surabaya dan Yogyakarta (dan Ubud pada contoh tulisan di ATM) hal yang saya amati tentu hanya hal remeh-temeh yang tidak perlu dipusingkan. Sama seperti ketika saya awalnya mengira bahwa melihat dan mendengar pedagang keliling yang berlalu-lalang sekian menit sekali di depan rumah adalah pengalaman yang universal. Setelah satu bulan menetap di Bali, saya baru menyadari bahwa pengalaman tersebut bukan suatu hal yang begitu lazim — setidaknya di desa tempat saya sekarang bermukim.

Meskipun seringkali dianggap sepele, banyak pengalaman sehari-hari yang dapat kita temukan ketika menjelajahi jalan dan gang yang sebenarnya menyimpan informasi penting yang dapat membantu kita memahami cara dan alasan di balik tindakan kita. Namun, kedekatan kita dengan pengalaman-pengalaman tersebut, seringkali membuat kita tidak menyadari potensi nilai informasi yang ada di dalamnya.

Mengalami kota dari tingkat setapak

Berjalan dengan atau tanpa tujuan di kota sambil mengamati dan merasakan suasana kota dan penduduknya, yang disebut flânerie oleh Walter Benjamin, sebenarnya sudah menjadi bentuk kegiatan etnografi perkotaan yang formal. Dengan menjelajahi tempat yang tidak biasa, atau tempat yang telah biasa bersama dengan orang lain, kita dapat melihat suatu tempat dengan sudut pandang yang berbeda dan menemukan hal-hal baru yang mungkin sebelumnya tidak pernah kita perhatikan.

Penelusuran yang dimaksud Walter Benjamin tidak terbatas pada bentuk ruang tertentu, melainkan menekankan pada bentuk pengalaman yang dilakukan. To experience city from street-level perspective, tulis sebuah sumber lain — mengalami kota pada tingkat terkecilnya. Menyusuri kota sebagai pejalan kaki dari gang ke gang berarti mengalami hidup pada tingkat setapak.

Sebuah kolektif telusur bernama GangGangan menulis dalam lamannya, “Gang adalah partisi terkecil dari alur mobilitas manusia. … (gang kini telah menjadi ruang) tempat berkumpul, sebagai ruang mencari nafkah, atau bagi sebagian masyarakat, gang menjadi sarana rekreasi gratis yang memungkinkan untuk menjumpai hal-hal yang tidak akan dijumpai di jalan-jalan protokol.” Dari gang, kita bisa melihat dan menemukan bagaimana kehidupan suatu kota dibentuk dari kumpulan aktivitas individual. Dan sebaliknya memahami bagaimana hal yang terjadi secara kolektif kemudian membentuk kebutuhan dan kebiasaan personal kita.

Meliput yang luput, merekam kompleksitas kehidupan dari hal-hal sederhana

Dalam buku The City and the Senses, Jill Steward dan Alexander Cowan menuliskan, “Bagi kebanyakan orang yang tinggal di kota, baik di masa lalu maupun sekarang, pengalaman-pengalaman sehari-hari yang biasa terjadi di sekitar mereka mungkin tidak pernah dicatat atau diperhatikan secara khusus. Namun, bagi sejarawan budaya, catatan-catatan yang ada menggambarkan kompleksitas budaya dan kehidupan. Pengalaman-pengalaman yang sering luput tercatat tersebutlah, baik secara individu maupun bersama dengan yang lain, yang membentuk perilaku sehari-hari dan hubungan penting antara individu dan ruang di sekitar mereka.”

Mencatat hal-hal sederhana yang terjadi di level terkecil suatu kota melalui berbagai indera, memungkinkan terbentuknya pemahaman yang lebih dalam tentang cara dunia sekitar kita bekerja. Catatan tentang wangi samar dupa ketika melintasi gang desa, ditambah semerbak sedap malam dari toko bunga kecil yang dengan mudah ditemui di sisi jalan di Bali, akan melengkapi amatan tentang ragam bunyi yang terdengar menjadi suatu temuan yang kontekstual tentang kehidupan di sekitar. Semakin sering menyusuri kota dari jalan ke jalan serta gang ke gang, semakin kaya data yang kita kenali dan bisa kita gali lebih jauh lagi.

Menyusuri gang dan jalan di Bali, saya menangkap bebauan samar yang tidak saya temukan ketika berjalan kaki di Jawa.

Namun yang terpenting dari berjalan lepas menelusuri kota hingga desa adalah menikmatinya! Tidak usah khawatir jika sepulang dari menelusuri jalan kita merasa tidak menemukan apapun yang menarik atau tidak membuahkan catatan baru. Sekedar menghasilkan refleksi tentang apa yang kita rasakan ketika berjalan pun cukup. Tidak ada yang salah dari penelusuran yang dekat dan singkat.

Tersesat sedikit itu pengalaman biasa ketika menyusuri gang. Semakin lama akan menjadi semakin menyenangkan!

Berjalanlah di tempat yang amat kita kenal hingga yang asing sama sekali. Jangan ragu bahkan jika harus berjalan sendirian, percayalah berjalan sendirian itu menyenangkan. Gunakan bantuan peta digital untuk membawamu pergi dan pulang kembali jika kamu ragu. Ada berbagai petunjuk murah hati yang bisa kita temukan dari warga setempat; di tembok gang, pada marka jalan, hingga obrolan di warung pinggir jalan dan kedai terdekat. Berjalan dan nikmatilah!


Penulis:
Nadhirah Nuha

Nuha adalah seorang peneliti desain yang saat ini bekerja pada sebuah NGO berbasis penelitian dan eksperimentasi. Tumbuh besar di perkotaan dan menyenangi kegiatan merekam kejadian melalui gambar dan tulisan membuatnya kini memiliki catatan lepas tentang hal-hal yang Ia temukan ketika berjalan di sekitar.

Tulisan Nuha lainnya bisa dibaca pada tautan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *